Tugas Panggilan Kita

Iman, Pengharapan, Kasih
297 views | 0 Comments

Gedung Gereja Kristen Jawa (GKJ) yang terletak di Pamulang, Tangerang Selatan bentuk bangunannya
terlihat sangat kental dengan nuansa Jawa, mulai dari ornamennya sampai pada salah satu jam
kebaktiannya yang masih menggunakan bahasa Jawa. Hal lain yang menariknya pada acara-acara
tertentu ibadah dilantunkan dengan gending-gending Jawa dalam karawitan.

Lalu sejak kapan gending karawitan diperbolehkan mengiringi ibadah di gereja-gereja? Adalah Raden
Cajetanus Hardjosubroto seorang Katolik yang pada tahun 1950-an untuk pertama kalinya
memperkenalkan karawitan dalam ibadah di gereja Katolik, khususnya gereja-gereja Katolik yang ada di
tanah Jawa. Meskipun awalnya juga mengalami penolakan dari Gereja.

Raden Cajetanus Hardjasoebrata seorang guru seni tembang dan karawitan yang menuntaskan
pendidikannya di Muntilan pada tahun 1926. Setahun sebelum kelulusannya ia memperkenalkan
gending karawitan sebagai pengiring ibadat di luar gereja. Gending ciptaannya sendiri seperti “ Atur
Roncen”, “Sri Yesus Mustikeng Manis”, dan “O Kawula Punika”. Pada masa itu gereja Katolik masih
memandang penggunaan bahasa lokal dengan sebelah mata. Tapi dengan beberapa kali
dimunculkannya gending karawitan memunculkan respon positif yang diberikan oleh Uskup Batavia,
Mgr. Van Velsen. Meski demikian bukan berarti dapat restu untuk dapat tampil dalam peribadatan.
Kesabarannya menunggu membuahkan hasil dengan adanya Konsili Vatikan II. Dimana salah satu
butirnya tentang diizinkannya penggunaan budaya setempat dalam misa gereja Katolik.
Penerimaan karawitan dalam peribadatan di gereja-gereja Protestan di tanah Jawa, khususnya bagi
Gereja Kristen Jawa (GKJ) juga mengalami penolakan. Pengaruh badan Zending (Nederlandche
Gereformeerde Zending Vereniging) masih sangat kuat. Tidak hanya itu zending juga berpandangan
bahwa kebudayaan yang paling benar adalah yang berasal dari Barat. Hal ini juga terungkap dari
penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan dalam penelitian ilmiahnya dengan judul: “Penggunaan
Gamelan Dalam Penggunaan Ibadah di GKJ Purworejo Jawa Tengah.” tahun 2015.
Terlihat bahwa proses inkulturasi baik di Gereja Katolik dan Gereja Protestan awalnya sangat sulit
diterima, mengingat masih kuatnya anggapan, bahwa penerapan nilai-nilai budaya lokal di Gereja
dianggap tidak lebih baik dari pada budaya barat. Tapi dengan tumbuhnya kesadaran penggunaan
budaya lokal dalam peribadatan, maka hal itu turut mewarnai proses inkulturasi dalam gereja, baik itu
lewat penggunaan pakaian, bahasa Jawa maupun dengan tembang-tembang karawitan.
Raden Cajetanus Hardjasoebrata sudah memberi inspirasi dan tauladan bagi kita, bagaimana budaya
dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan “Amanat Agung” bagi masyarakat sekitar. Panggilan yang
sama juga ada di pundak kita. Siapkah kita menerima tugas panggilan itu? Amin.

(Alex. Sumber: Berbagai sumber.)

Editor: Budi F.K.

Share on:

0 Comments

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar

About Us

Sarana Berbagi Firman Tuhan.

Digital Bible Community sebagai wadah muda-mudi kreatif di bidang multimedia dan teknologi informasi untuk bersama-sama mengekspresikan ide-ide kreatif sekaligus memuji dan memuliakan Tuhan. Ikuti Sosmed kami dan Tuhan Yesus memberkati.

Contact Us

Lembaga Alkitab Indonesia

Stay Connected

Facebook
Twitter
Instagram