Ketekunan Seorang Saut Situmorang

Motivasi
299 views | 0 Comments

Salah satunya semangat yang digemakan reformasi 1998 adalah mengikis korupsi di Indonesia yang sudah menjamur dan menyebar secara luas. Pada masa transisi saat itu masyarakat berharap pemerintahan Presiden Habibie dapat membawa perubahan kehidupan bernegara ke arah yang lebih baik, terutama dalam hal pemberantasan korupsi.

Harapan tersebut terwujud pada era Pemerintahan Megawati Soekarnoputri dengan dibentuknya lembaga anti ruswah yang serius menangani korupsi. Lembaga negara ini berdiri berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Membicarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tidak dapat terlepas membicarakan salah satu sosok Wakil Ketua KPK yang berpengaruh, Saut Situmorang. Pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini sosok yang tekun. Kesibukannya sebagai dosen Universitas Indonesia tidak menghalanginya untuk terus menuntut ilmu. Tahun 2014 ia menyabet gelar S-3 jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Persada Indonesia. Dari dunia pendidikan ia terpanggil menekuni dunia intelejen dengan bekerja di Badan Intelejen Negara (BIN). Karena pengalamannya inilah yang membawa Saut terpilih sebagai salah satu Komisioner KPK.

Pendidikan keluarga yang religius dengan kegiatan rutin berdoa, membaca Alkitab, dan kehidupan takut akan Tuhan yang diajarkan orangtuanya menjadi bekal dan pegangan bagi Saut Situmorang melakukan tanggungjawab dan setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya, termasuk dalam tugasnya pemberantasan korupsi.

Dalam buku Inspirasi Generasi 65 Kesaksian Hidup bersama Kitab Suci (2019) dikisahkan kehidupan Saut Situmorang yang menjaga pergaulannya untuk tetap dekat dengan Tuhan agar penuh berkat sesuai dengan ayat Firman Tuhan pada Mazmur 1:1. Menjaga sebuah integritas menurutnya sangat penting terlebih dalam pekerjaannya dalam menangani kejahatan korupsi. Demikian juga ia belajar nilai-nilai kesabaran hal tersebut juga tampak pada pernyataannya bahwa “lebih baik pencegahan ketimbang penangkapan.”

Pembelajaran kesabaran ini tidak hanya sebagai jargon saja baginya tapi juga mempraktekannya, tiga kali ia melamar sebagai pemimpin KPK dan gagal, pada kesempatan keempat ia diterima untuk memimpin KPK periode 2015-2019. Nilai-nilai Alkitabiah begitu ia jadikan teladan seperti waktu Tuhan adalah waktu yang paling tepat, sehingga sebagai dalam berproses melamar sebagai pemimpin KPK pun ia terus berjuang dan terus mencoba. Dari pengalaman hidup dan prinsip-prinsip Saut Situmorang kita dapat memetik pembelajaran bahwa hidup seturut kehendak-Nya, tekun dan berdoa adalah kunci awal sebuah keberhasilan. []

(Laksono. Sumber: Berbagai sumber)

 

Editor: Budi Fajar Kadarmanto

Share on:

0 Comments

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar

About Us

Sarana Berbagi Firman Tuhan.

Digital Bible Community sebagai wadah muda-mudi kreatif di bidang multimedia dan teknologi informasi untuk bersama-sama mengekspresikan ide-ide kreatif sekaligus memuji dan memuliakan Tuhan. Ikuti Sosmed kami dan Tuhan Yesus memberkati.

Contact Us

Lembaga Alkitab Indonesia

Stay Connected

Facebook
Twitter
Instagram