Hidup Berliku Hanya untuk Melayani Tuhan

Iman, Pengharapan, Kasih
221 views | 0 Comments

Mengabdi melayani Tuhan dengan menjadi hamba Tuhan, pastor atau pendeta dibutuhkan komitmen dan integritas yang tinggi dan kesungguhan. Pelayanan tersebut harusnya mendasarkan diri setiap langkahnya pada nilai-nilai Alkitabiah. Pilihan menjadi pemimpin umat diambil Mgr. Prof. Dr. Ignatius Suharyo saat dirinya mengambil keputusan untuk membaktikan diri dan hidupnya hanya untuk melayani Tuhan.

Keputusan untuk menjadi calon imam diambil saat beliau masih duduk di bangku SMA. Mengingat pada saat itu paroki di desanya belum mempunyai pastor yang menetap. Situasi dan kondisi tersebut membuat dirinya tergerak untuk mengabdikan diri melayani Tuhan secara penuh. Impiannya hanya ingin pelayanan saja, ia tidak pernah bermimpi sekolah tinggi apalagi menjadi seorang Uskup di Keuskupan Agung Jakarta. 

Ia memulai perjalanan kehidupan pelayanannya dengan mengikuti tes masuk pendidikan menengah calon imam atau seminari di Mertoyudan di usianya yang masih belia 11 tahun. Kerinduannya untuk melayani bak gayung bersambut dengan pentahbisan dirinya menjadi imam dioses Keuskupan Agung Semarang pada 26 Januari 1976. Tidak lama berselang beliau diutus untuk melanjutkan studi ke Roma. Sepulang dari Roma ia juga menjalankan tugas mengajar di Universitas Sanata Dharma sebagai pengajar Kitab Suci. Prinsip-prinsip hidup yang Alkitabiah, seperti menjalankan perkara-perkara kecil yang dikerjakan dengan serius menjadikannya seorang yang dianugerahi dengan kepercayaan yang besar.

Pada 26 Januari 2006 Mg. I. Soeharyo diutus untuk melayani jemaat di Jakarta. Pengalaman sepulangnya dari Roma kemudian dipercaya menjadi dosen untuk mengajar Kitab Suci tetap membuatnya bersemangat menjalankan tugas-tugasnya. Kepindahannya ke Jakarta dipandangnya sebagai tantangan baru dan ia menganggap seperti mengikuti aturan sepak bola saja. Menurutnya Gereja Katolik telah memiliki struktur baku pelayanan sehingga penting untuk menjaga aturan dan hukum gereja. Ia juga menuturkan perjuangannya untuk bergerilya mencari buku-buku sumber pendamping Alkitab untuk meneliti secara ilmiah. Dalam buku Inspirasi Generasi: 65 Kesaksian Hidup bersama Kitab Suci (2019) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia ia menceritakan mulai belajar Alkitab secara ilmiah setelah ia belajar di Fakultas Teologi. Modal pengetahuannya tentang Alkitab secara ilmiah ini membuatnya lebih mudah menyampaikan kebenaran firman Tuhan secara lugas. Baginya kemudahan mengakses referensi Alkitab saat itu, dipandangnya sebagai sebuah kesempatan yang baik untuk membuat imannya bertumbuh. Mari kita belajar dari Mgr. I. Suharyo tentang arti pentingnya sebuah pelayanan mengikut Tuhan. Setiap kesempatan dan peluang yang ada harus diimani secara sungguh. Termasuk saat kita diberikan kesempatan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, karena ini merupakan respon rasa syukur  terhadap pemeliharaan Tuhan.[]

 

(Laksono, Sumber: Berbagai sumber)

Editor: Budi Fajar Kadarmanto

Share on:

0 Comments

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar

About Us

Sarana Berbagi Firman Tuhan.

Digital Bible Community sebagai wadah muda-mudi kreatif di bidang multimedia dan teknologi informasi untuk bersama-sama mengekspresikan ide-ide kreatif sekaligus memuji dan memuliakan Tuhan. Ikuti Sosmed kami dan Tuhan Yesus memberkati.

Contact Us

Lembaga Alkitab Indonesia

Stay Connected

Facebook
Twitter
Instagram