Romo Mangun Wijaya dan Kali Code

Motivasi
864 views | 0 Comments

Berwisata di  Kota Yogyakarta sepertinya belum lengkap bila belum mengunjungi Kali Code. Kali Code anak Kali Boyong yang membelah kota Yogyakarta. Sebelum adanya kampung warna-warni/mural di Malang, kawasan dan lingkungan Kali Code sudah terlebih dahulu menata bantaran sungai dengan dinding rumah-rumah penduduk yang dihiasi mural bergambar dengan warna-warni yang mencolok menjadi daya tarik tersendiri. 

Adalah Romo Mangun, arsitek dibalik tertatanya kawasan Kali Code menjadi kawasan yang nyaman dihuni dan ikon wisata kota Yogyakarta. Sebelumnya kawasan Kali Code adalah kawasan kumuh dan penuh sampah dan rumah-rumah penduduk yang berderet tidak tertata rapi, bahkan pemerintah daerah Yogyakarta sudah berencana akan menjadikan area sepanjang bantaran Kali Code menjadi lahan terbuka hijau. Kemudian pada tahun 1980, pastor yang berlatar belakang arsitek, Romo Mangunwijaya mempunyai kepedulian untuk turut menata Kali Code agar penduduk di sepanjang bantaran kali dapat tetap tinggal. 

Agar pemukiman tersebut benar-benar menjadi kawasan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, Romo Mangun bahkan tinggal bersama dengan masyarakat Kali Code. Kemudian di kawasan pemukiman padat penduduk tersebut, rumah-rumah ditata secara artistik sekaligus pondasi yang tadinya hanya dibuat ala kadarnya diperkuat dan sekaligus untuk antisipasi banjir menjadi prioritas utama. Lingkungan dan hunian dibangun dan disesuaikan dengan kemampuan warganya, beberapa rumah dibangun dua tingkat sebagai antisipasi bila terjadi  banjir. Bila dilihat dari posisi di atas Jembatan Kali Code, maka akan tampak perkampungan Kali Code yang tertata secara sempurna. Jalan-jalan kecil sebagai penghubung antar rumah dan tampak balai warga dan lapangan kecil tempat warga bersosialisasi. Atas karyanya menata kawasan hunian kumuh di bantaran Kali Code ini, pada tahun 1992 Romo Mangun mendapatkan penghargaan Aga Khan Award atas jasanya membangun lingkungan yang berbasis aspirasi masyarakat.

Penataan Kali Code sebagai bagian kepedulian Romo Mangun dalam pembangunan dan kemanusiaan. Selain itu ia juga berjasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah.  Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, lahir di Ambarawa, Jawa Tengah pada 6 Mei 1929. Ia mengenyam pendidikan dasar di HIS Fransiscus Xaverius Muntilan, Magelang kemudia melanjutkan pendidikannya di STM Jetis Yogyakarta. Meletusnya perang di Ambarawa dan Magelang  memaksa Mangunwijaya untuk sejenak meninggalkan bangku sekolah dan ikut bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengangkat senjata mengusir penjajah Jepang . Setelah kemerdekaan Mangunwijaya kembali melanjutkan sekolah ke SMU-B Santo Albertus Malang, lulus tahun 1947. Perjalanan spiritualnya mendorong dirinya untuk masuk ke dunia pelayanan, sehingga pada usia 21 tahun ia memutuskan menimba ilmu ke Seminari Kenthungan di Yogyakarta. Alasan ia memutuskan untuk menjadi pastur adalah agar dapat bergaul lebih dekat dengan masyarakat kecil, baik di desa maupun di kota. Setamat dari Seminari, Romo Mangun tidak hanya berkutat dengan kehidupan bergereja saja tapi ia kemudian meningkatkan pelayanannya dengan menempuh studi jurusan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Setamat dari ITB pada 1960, ia melanjutkan studi di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman sampai tahun 1966. Sekembali dari Jerman, Romo Mangun kemudian melayani di Paroki Gereja Santa Theresia, Magelang. 

Romo Mangun dalam perjuangannya tidak pernah berhenti, pasca kemerdekaan ia tetap lantang menyuarakan suara kebenaran, baik urusan agama maupun kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, khususnya yang mengorbankan masyarakat kecil. Selain sebagai Arsitektur dan novelis, ia juga mempunyai kedekatan emosional dengan kaum marjinal. Tahun 1986, Romo Mangun mendampingi para korban penggusuran waduk Kedung Ombo meski dalam proses pendampingan tersebut terpaksa harus menyelinap dan main kucing-kucingan dengan aparat agar bisa dapat berkomunikasi dengan para warga. Komitmen Romo Mangun semoga memberi teladan bagi kita semua agar hidup beragama kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Nilai-nilai Alkitablah yang menginspirasi Romo Mangun agar Urip iku Murup. Semoga Tuhan Yesus memberkati.

Foto: id.wikipedia

(Alex. Sumber: Berbagai sumber)

Editor: Budi Fajar Kadarmanto

Share on:

0 Comments

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar

About Us

Sarana Berbagi Firman Tuhan.

Digital Bible Community sebagai wadah muda-mudi kreatif di bidang multimedia dan teknologi informasi untuk bersama-sama mengekspresikan ide-ide kreatif sekaligus memuji dan memuliakan Tuhan. Ikuti Sosmed kami dan Tuhan Yesus memberkati.

Contact Us

Lembaga Alkitab Indonesia

Stay Connected

Facebook
Twitter
Instagram