Perjuangan Johanes Latuharhary Mengusir Penjajah

Motivasi
249 views | 0 Comments

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6)

Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 bukan berarti sebagai titik akhir perjuangan Indonesia. Soekarno pernah mengatakan bahwa,  “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Menyatukan Indonesia yang beragam membutuhkan semangat kebersamaan untuk bersatu. Semangat itu terus digemakan oleh para founding father bangsa ini, salah satunya Johannes Latuharhary. 

Latar belakang pendidikan hukum yang didapat dari Universitas Leiden, Belanda membuat Latuharhary dipercaya untuk memimpin Sarekat Ambon. Dia bekerja menjadi hakim di Jawa Timur. Johannes Latuharhary atau akrab dipanggil dengan “Nani” ini patut bangga, karena ia sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar (Meester in Rechten) di Universitas Leiden yang kemudian disusul oleh Abdul Syukur. Ketika menempuh pendidikan di Belanda, Johannes Latuharhary pernah jatuh cinta pada wanita berdarah Perancis, namun kisah percintaannya kandas karena tekanan dari rekan-rekannya di organisasi. Gagal dengan wanita berdarah Perancis, ia justru menikah dengan wanita Ambon berdarah Belanda, Henriette Carolina Pattiradjawane atau akrab disapa “Yet.”  Mereka menikah pada 26 September 1931 di Kota Yogyakarta kemudian berbulan madu di Semarang. Tidak berselang lama berita bahagia datang pada 15 Juni 1932, putri pertama mereka La Semaine lahir. 

Johannes Latuharhary melalui Sarekat Ambon terus menyuarakan persatuan dan menanamkan jiwa nasional, namun upayanya tersebut tidak selalu mulus, salah satu anggota Sarekat Ambon, Christian Soumokil lebih memilih memimpin Republik Maluku Selatan. Gerbong Sarekat Ambon yang dipimpinnya semakin mendekatkan pada Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia PPPKI). Bahkan kemudian ia bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra). Semangat nasionalismenya juga mendorong dirinya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai hakim di Jawa Timur. Kondisi ekonomi Johannes Latuharhary setelah mengundurkan diri dari hakim dan beralih menjadi pengacara tentunya mengalami penurunan drastis dari sebelumnya. Padahal ketika ia bekerja sebagai Ketua Pengadilan gajinya sebesar 750 gulden, itu pun sebagian besar gajinya untuk mendukung Sarekat Ambon. 

Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, orang-orang Ambon mengalami posisi serba salah, karena mereka selalu dicurigai sebagai mata-mata Sekutu atau Belanda. Tapi di mata Jepang Johannes Latuharhary merupakan sosok orang penting. Bahkan ketika Jepang kalah dari Sekutu dan menjelang persiapan kemerdekaan Indonesia ia dipercaya duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). 

Latuharhary juga mendapat julukan sebagai tokoh yang pluralis karena ia sempat menolak Piagam Jakarta yang berisi seakan-akan hanya berpihak pada satu agama saja yang juga kebetulan ia sebagai orang kristen. Demikian juga ketika muncul istilah “mangkubumen” sebagai sebutan pemerintah daerah yang diusulkan oleh Soekarno pada waktu itu karena hal tersebut dinilai terlalu Jawa oleh Latuharhary.  Baginya benih-benih yang dapat menimbulkan perpecahan perlu untuk dikritisi. 

Usai Proklamasi Republik Indonesia, kemudian pada 6 September 1945 Johannes Latuharhary diberi mandat oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Gubernur Provinsi Maluku. Dalam mengemban tugas tersebut ia menjalankannya dengan penuh dedikasi, tapi ironisnya ketika ia mengalami sakit sampai dengan kematiannya ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya perawatannya. Ia meninggal pada tanggal 8 November 1959 diusia 59 tahun. Kisah Johannes Latuharhary ini hanya sebagian dari kisah tokoh-tokoh Kristen yang mendedikasikan diri pada perjuangan Indonesia. Dia berusaha merepresentasikan ajaran Kristus dalam setiap karya dan perjuangannya dengan menyuarakan kebenaran. [] 

(Alex. Sumber: Berbagai sumber).

Editor: Budi Fajar Kadarmanto.

Share on:

0 Comments

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar

About Us

Sarana Berbagi Firman Tuhan.

Digital Bible Community sebagai wadah muda-mudi kreatif di bidang multimedia dan teknologi informasi untuk bersama-sama mengekspresikan ide-ide kreatif sekaligus memuji dan memuliakan Tuhan. Ikuti Sosmed kami dan Tuhan Yesus memberkati.

Contact Us

Lembaga Alkitab Indonesia

Stay Connected

Facebook
Twitter
Instagram